Kajian Manajemen Proyek terhadap Faktor Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi dengan Metode Relative Importance Index (RII)

Studi Kasus Pekerjaan Pembangunan Bendung Wanggar dan Jaringan Irigasi di Kabupaten Nabire

Authors

  • Andri Aslam Perusahaan BUMN
  • Sudarman Supardi Universitas Muslim Indonesia
  • Watono Kasim Universitas Muslim Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52103/jfo.v6i1.2292

Keywords:

Bendung, Jaringan Irigasi, Keterlambatan Proyek, Manajemen Proyek, Nabire, Relative Importance Index (RII)

Abstract

Proyek pembangunan Bendung Wanggar dan Jaringan Irigasi di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua merupakan proyek infrastruktur sumber daya air untuk mendukung penyediaan air irigasi bagi lahan pertanian seluas ±3.200 Ha. Proyek mengalami keterlambatan dengan realisasi 93,03% dari target 100% (deviasi −6,97%) pada akhir masa kontrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab keterlambatan serta menentukan faktor yang paling dominan berdasarkan peringkat nilai Relative Importance Index (RII). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei kuesioner skala Likert (1–5) kepada 35 responden (kontraktor, konsultan perencana, konsultan pengawas, dan owner), dengan 46 sub-variabel dalam tujuh kelompok variabel dianalisis menggunakan metode RII. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlambatan dipengaruhi oleh seluruh tujuh kelompok faktor, dengan rentang nilai RII 0,577–0,949 yang mengindikasikan bahwa keterlambatan merupakan kombinasi berbagai faktor yang saling memengaruhi. Sembilan sub-variabel berada pada kategori sangat tinggi (RII > 0,80), yaitu keterbatasan ketersediaan material di lokasi (X.3.3; RII = 0,949), kerusakan peralatan konstruksi (X.3.5; RII = 0,931), keterlambatan pengadaan material (X.3.1; RII = 0,869), fluktuasi harga material (X.3.4; RII = 0,863), kualitas material tidak sesuai spesifikasi (X.3.2; RII = 0,857), masalah logistik transportasi material (X.5.3; RII = 0,851), permasalahan pembebasan lahan (X.7.3; RII = 0,829), kondisi sosial masyarakat sekitar (X.5.4; RII = 0,829), dan kondisi sosio-kultural khusus Papua (X.7.4; RII = 0,817). Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlambatan proyek didominasi oleh tiga kelompok variabel utama, yaitu faktor material dan peralatan (X.3), faktor geografis dan permasalahan lahan (X.7), dan faktor lingkungan dan eksternal (X.5). Pengendalian perlu diprioritaskan pada perencanaan pengadaan dan ketersediaan material secara lebih awal, peningkatan keandalan dan pemeliharaan peralatan konstruksi, perbaikan sistem distribusi dan transportasi logistik ke lokasi proyek, serta pendekatan pengelolaan lahan dan pemangku kepentingan lokal yang adaptif terhadap karakteristik wilayah Papua.

Downloads

Published

2026-04-28