Persepsi Masyarakat mengenai Penyebab dan Dampak Stunting di Kabupaten Majene Sulawesi Barat Tahun 2020
DOI:
https://doi.org/10.52103/jmch.v3i4.1177Keywords:
Persepsi, Stunting, Stakeholder, MasyarakatAbstract
Latar Belakang: Status gizi di Indonesia terutama pada balita yang sekarang masih menjadi permasalahan di antaranya masalah gizi kurang, gizi buruk serta stunting. Gizi yang baik sangat diperlukan dalam hal perkembangan otak dan pertumbuhan fisik yang baik. Untuk memperoleh hal tersebut maka keadaan gizi seseorang perlu ditata sejak dini terutama pada masa kehamilan hingga bayi berusia 2 tahun atau yang dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Namun, kejadian dan pencegahan stunting tidak terlepas dari pengetahuan masyarakat yang masih minim, serta dilatarbelakangi oleh pendidikan yang rendah.
Metode: Penelitian ini menggunakan Quasi Kualitatif yang pengumpulan datanya menggunakan teknik Wawancara Mendalam, Focus Group Discussion dan Dokumentasi dengan pendekatan deskriptif yang merupakan prosedur penelitian untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi terkait persepsi masyarakat mengenai stunting di Kabupaten Majene, dengan teknik Purpossive Sampling.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi diantara masyarakat di Kabupaten Majene. Masyarakat cenderung berpersepsi bahwa stunting pada anak yaitu keterlambatan berbicara (speech delay), berat badan yang kurang dan tidak memiliki kepercayaan diri karena bodoh, selain itu ada juga masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui terkait stunting terutama penyebab, yang mereka ketahui bahwa kejadian stunting atau anak pendek disebabkan oleh factor keturunan, yang seiring waktu tinggi badan anak dapat menyesuaikan dengan usianya. Perbedaan persepsi mengenai stunting ini dapat mempengaruhi upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Kesimpulan: Terjadi perbedaan persepsi diantara para masyarakat cenderung berdasarkan pengalaman yang terjadi pada anak mereka.
References
The, E., & Journal, T. (2007). Nutritional statusand risk factors of chronic malnutrition in children under five years of age
Wiyogowati, Citaningrum. (2012). Kejadian Stunting pada Anak Umur dibawah Lima Tahun (0-59 Bulan) di Provinsi Papua Barat Tahun 179 2010 (Analisa Data Riskesdas 2010).Skripsi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta
WHO. 2014. WHA global nutrition targets 2025: Stunting policy brief. Geneva: World Health Organization.
Paudel, R., Pradhan, B., Wagle, R. R., Pahari, D.P., & Onta S. R. (2012). Risk factors for stunting among children: A community based case control study in Nepal. Kathmandu University Medical Journal, 10(3), 18-24.
Meilyasari, F. & Isnawati, M. (2014). Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 12 bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Journal ofNutrition College, 3(2), 16-25. Diakses dari http://www,ejournals1.undip.ac.id
Fikadu, T., Assegid, S. & Dube, L. (2014). Factor associated with stunting among children age 24 to 59 months in Meskan District, Gurage Zone, South Ethiopia: A case-control study. BMC Public Health,14(800).Diakses dari http://www.biomedcentral.com/1471- 2458/14/800.
Fikhar A. 2003. Faktor Determinan KEP pada Anak Usia 6 Bulan—3 Tahun di Kecamatan Kuranji Kota Padang Tahun 2003. Program Pascasarjana UI, Jakarta.
Bungin, M.Burhan. 2009. Penelitian Kualitatif. Cetakan ke 3. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Aronson, E., Wilson, T. D., Akert, R. M., Sommers, S. R., Columbus, B., New, I., … Tokyo, T. (2016). Social Psychology Ninth Edition.Pearson Education.Retrieved from www.pearsoned.com/permissions/.
Ajayi OR, Matthew GB, Taylor M, et al. 2017.―Structural equation modeling of the effect of family, preschool, and stunting on the cognitive development of school children‖. Fron, Nutr. 4:17
Black, M. M., Walker, S. P., Fernald, L. C. H., Andersen, C. T., DiGirolamo, A. M., Lu, C., … Grantham-McGregor, S. (2017). Early childhood development coming of age: science through the life course. The Lancet, 389(10064), 77–90. https://doi.org/10.1016/S0140- 6736(16)31389-7
Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hanani, R. (2016). Motorik Halus , Bahasa Dan Personal Sosial. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.
Alam MA, Richard SA, Fahim SM, Mahfuz M, Nahar B, Das S, et al. 2020. ―Impact of early-onset persistent stunting on cognitive development at 5 years of age: results from a multicountry cohort study‖. PloS ONE 15(1):e0227839.
Giyaningtyas, Ika Juita, A. Y. S. H. & N. H. C. D. (2019). Holistic Response of Mother as Caregiver in Treating Stunting. 13(2), 928–932.
Picauly I, Toy SM. 2013. ―Analisis determinan dan pengaruh stunting terhadap prestasi belajar anak sekolah di Kupang dan Sumba Timur, NTT‖.Jurnal gizi dan pangan; 8(1):55
Sandra, F., Ahmad, S., & Arinda, V. (2018). Preventing of stunting is crucial. Warta Kermas,








