Determinant Kejadian Stunting Pada Balita Berdasarkan Segitiga Epidemiologi

Determinant of Stunting Incidence in Toddlers Based on Epidemiological Triangle

Authors

  • Nur Alifah Wulandari Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia
  • Arman Arman Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia
  • Fatma Afrianty Gobel Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52103/jmch.v3i1.812

Keywords:

Stunting, Pejamu, Lingkungan, Air Susu Ibu

Abstract

Latar Belakang: Masalah stunting (anak pendek) adalah salah satu permasalahan gizi yang dihadapi dunia, terkhusus di negara miskin dan berkembang. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian stunting pada balita berdasarkan segitiga epidemiologi di wilayah kerja Puskesmas Taraweang kabupaten Pangkep tahun 2021.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 24-59 bulan berjumlah 630 anak. Jumlah sampel adalah 86 responden, dengan Ibu dari balita sebagai responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu metode non probability sampling yaitu Purposive Sampling.

Hasil: (1) Distribusi Spasial faktor determinan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep yakni, Faktor Host (Pendidikan Ibu, Pengetahuan Ibu, Riwayat Penyakit Infeksi, dan Riwayat Pemberian ASI) dan faktor Environment (Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun dan Pengelolaan Air Minum). (2) hubungan faktor Host Pendidikan Ibu dengan kejadian stunting sebesar 0,015 (3) faktor Host Pengetahuan Ibu dengan kejadian stunting sebesar 1,00 (4) hubungan faktor Host Riwayat Penyakit Infeksi dengan kejadian stunting sebesar 0,001 (5) hubungan faktor Host Riwayat Pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting sebesar 0,001 (6) hubungan faktor lingkungan kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan kejadian stunting sebesar 0,023 (7) hubungan faktor lingkungan Pengelolaan Air Minum dengan kejadian stunting sebesar 0,001, (8) pengaruh pemberian ASI Eksklusif merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi stunting dengan nilai 0,016.

Kesimpulan: Faktor paling dominan mempengaruhi kejadian stunting adalah Riwayat pemberian ASI. Diharapkan pihak puskesmas khususnya bagian gizi dapat lebih meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat dan memaksimalkan pemantauan dan perbaikan gizi bersama dengan orang tua balita, khususnya di tiga desa yang termasuk lokasi khusus stunting yakni Desa Taraweang, Barabatu, dan Desa Batara.

References

Aisah, Siti, Rr Dewi Ngaisyah, dan Merita Eka Rahmuniyati. 2019. “Personal Hygiene And Environmental Sanitation Associated With Stunting Incidents In Wukirsari Village, Cangkringan District.” Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu 1 (2): 49–55. http://prosiding.respati.ac.id/index.php/PSN/article/download/182/176.

Ardita, Agustina. 2020. “Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Tahun 2020.” Medan: Universitas Sumatera Utara.

Arifin, Dedi Zaenal, Sri Yusnita Irdasari, dan Hadyana Sukandar. 2012. “Analisis sebaran dan faktor risiko stunting pada balita di Kabupaten Purwakarta 2012.” Bandung: Universitas Padjajaran Bandung.

Bardosono, S, S Sastroamidjojo, dan W Lukito. 2015. “Determinants of Child Malnutrition during the 1999 Economic Crisis in Selected Poor Areas of Indonesia.” Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition.

Cahyaningsih, dan Dwi Sulistyo. 2011. Pertumbuhan perkembangan anak dan remaja. 2 ed. Jakarta: Trans Info Media.

Candra, Aryu. 2013. “Hubungan underlying factors dengan kejadian stunting pada anak 1-2 tahun.” Diponegoro Journal of Nutrition and Health 1 (1).

Chyntaka, Mayang, dan Nanda Yansih Putri. 2019. “Riwayat Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-60 Bulan.” JIDAN (Jurnal Ilmiah Bidan) 7 (1).

Desyanti, C, dan T. S Nindya. 2017. “Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya.” Amerta Nutrition 1 (3).

Didik. 2018. “Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.”

Direktorat Kesehatan Lingkungan. 2015. “HYIGENE DAN SANITASI MAKANAN.” Kemenkes RI. 2015. https://tpm.kemkes.go.id/kesling-web/portal/konten/~berita/103016-hyigene-dan-sanitasi-makanan#:~:text=Penjamah makanan menurut Depkes RI,penjamah makanan sangatlah besar peranannya.

Gerungan, Glaudia P., Nancy S.H. Malonda, dan Dina V. Rombot. 2015. “Hubungan Antara Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 13-36 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado.” Manado: Universitas Sam Ratulangi Manado.

Hasanah, Faraissa. 2016. “Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita.” Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Hasnawati, Hasnawati, Jumiarsih Purnama AL, dan Syamsa Latief. 2021. “Hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan.” Jurnal Pendidikan Keperawatan dan Kebidanan 1 (1).

Herawati, Herawati, Andi Anwar, dan Dina Lusiana Setyowati. 2020. “Hubungan sarana sanitasi, perilaku penghuni, dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) oleh ibu dengan kejadian pendek (stunting) pada batita usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Harapan Baru, Samarinda.” Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 19 (1).

Jayanti, Linda Dwi, Yekti Hartati Effendi, dan Dadang Sukandar. 2011. “Perilaku hidup bersih dan sehat (phbs) serta perilaku gizi seimbang ibu kaitannya dengan status gizi dan kesehatan balita di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.” Jurnal Gizi dan Pangan 6 (3).

Kemenkes RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. 2018. “Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan.”

Mirnawati, dan Rahmaniah. 2020. “Hubungan Frekuensi Pemberian Makan dan Riwayat ASI Eksklusif dengan Kejadian Stuntingpada baduta di Desa Parappe.” Journal of Health, Education and Literacy 2 (2).

Mustamin, Ramlan Asbar, dan Budiawan. 2018. “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015.” Media Gizi Pangan 25 (1).

Nasikhah, Roudhotun, dan Ani Margawati. 2012. “Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24–36 bulan di Kecamatan Semarang Timur.” Journal of nutrition college 1 (1).

Nasrul, Fahmi Hafid, A. Razak Thaha, dan Suriah. 2015. “Faktor Risiko Stunting Usia 6-23 Bulan di Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto.” Jurnal MKMI 11 (3).

Natalina, R, P Diyan, dan Kristiawati. 2015. “Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita di Posyandu Tulip Wilayah Rindang Benua Kelurahan Pahandu Palangkaraya.” Jurnal Ilmu Kesehatan 1 (19).

Ni’mah, Khoirun, dan Siti Rahayu Nadhiroh. 2015. “Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita.” Media Gizi Indonesia, 10 (1).

Nurcahyo, Karlina, dan Dodik Briawan. 2010. “Konsumsi pangan, penyakit infeksi, dan status gizi anak balita pasca perawatan gizi buruk.” Jurnal Gizi dan pangan 5 (3).

Mursyid F, Ikhtiar M, Amelia AR, Yusuf RA. Patient Experience on Nursing Care and Patient Loyalty; A Lesson Learn from Regional Public Hospital in Indonesia. Jurnal Ekonomika. 2022 Feb 28;6(1):48-52.

Oktarina, Zilda, dan Trini Sudiarti. 2013. “Faktor risiko stunting pada balita (24—59 bulan) di Sumatera.” Jurnal gizi dan pangan 8 (3).

Permadi, M Rizal. 2016. “Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dan Air Susu Ibu Eksklusif Dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-24 bulan di Kabupaten Boyolali.” Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Picauly, I, dan Toy S M. 2013. “Analisis Determinan Dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah Di Kupang Dan Sumba Timur, NTT.” Jurnal Gizi dan Pangan 8 (1).

Pormes, Wellem Elseus, Sefti Rompas, dan Amatus Yudi Ismanto. 2014. “Hubungan pengetahuan orang tua tentang gizi dengan stunting pada anak usia 4-5 tahun di TK Malaekat Pelindung Manado.” Jurnal Keperawatan 2 (2).

Purnama, S. G. 2017. “Diktat dasar-dasar kesehatan lingkungan.”

Pusdatin. 2018. “Situasi balita pendek (stunting) di indonesia.” Pusat Data Dan Informasi Kesehatan. 2018.

Rambitan, Winny, R. B. Purba, dan Nova H. Kapantow. 2014. “Hubungan Antara Riwayat Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Batita Diwilayah Kerja Puskesmas Kawangkoan Kabupaten Minahasa.” Manado: Universitas Sam Ratulangi.

RISKESDAS. 2018. “Laporan Nasional RISKESDAS 2018.” Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Rohmatun, Nining Yuliani. 2014. “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Sidowarno Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten.” Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Samiyati, Menik, Suhartono, dan Dharminto. 2019. “Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan.” Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) 7 (1).

Sinatrya, Alfadhila Khairil, dan Lailatul Muniroh. 2019. “Hubungan faktor water, sanitation, and hygiene (WASH) dengan stunting di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso.” Amerta Nutrition 3 (3).

SJMJ, Sr. Anita Sampe, Rindani Claurita Toban, dan Monica Anung Madi. 2020. “Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita.” Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada 11 (1).

Soeracmad, Y. S. Y. 2019. “Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Balita Di Puskesmas Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2019.” J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat 5 (2).

Soeracmad, Yuliani, Muhammad Ikhtiar, dan Agus Bintara S. 2019. “Relationship of Household Environmental Sanitation with Stunting Occurrence in Toddler Children in Wonomulyo Health Center , Wonomulyo District , Polewali Mandar Regency , West Sulawesi in 2019.” Jurnal Kesehatan Masyarakat 5 (2): 138–50.

Sulastri, D. 2012. “Faktor determinan kejadian stunting pada anak sekolah di kecamatan Lubuk Kilang Kota Padang.” Majalah Kedokteran Andalas 29 (1).

Sundari, Ermawati, dan Nuryanto. 2016. “Hubungan asupan protein, seng, zat besi, dan riwayat penyakit infeksi dengan z score tb/u pada balita.” Journal of Nutrition College 5 (4).

Supariasa. 2012. Pendidikan Dan Konsultasi Gizi. Jakarta: EGC.

Taguri, A. El, F Besmar, A Abdel Monem, I Betilmal, C Ricour, dan M. F Rolland-Cachera. 2009. “Stunting is a major risk factor for overweight: Results from national surveys in 5 Arab countries.” Eastern Mediterranean Health Journal 15 (3).

Torlesse, H, A. A Cronin, S. K Sebayang, dan R Nandy. 2016. “Determinants of Stunting in Indonesian Children: Evidence from A Cross-Sectional Survey Indicate A Prominent Role For The Water, Sanitation And Hygiene Sector in Stunting Reduction.” BMC Public Health Journal 16.

Uliyanti, D. G Tamtomo, dan S Anantanyu. 2017. “Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan.” Jurnal Vokasi Kesehatan 3 (2).

WHO. 2012. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). New York: PBB.

Wulandari, R. C., dan L Muniroh. 2020. “Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi, Tingkat Pengetahuan Ibu, dan Tinggi Badan Orangtua dengan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Tambak Wedi Surabaya.” Amerta Nutrition 4 (2).

Yuli, I.S, dan dkk. 2020. “Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi, Tingkat Pengetahuan, Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Puasana Kecamatan Moramo Utara Tahun 2019.” Endemis Journal 1 (3).

Downloads

Published

2022-01-28

How to Cite

Wulandari, N. A., Arman, A., & Gobel, F. A. (2022). Determinant Kejadian Stunting Pada Balita Berdasarkan Segitiga Epidemiologi : Determinant of Stunting Incidence in Toddlers Based on Epidemiological Triangle. Journal of Muslim Community Health, 3(1), 123–140. https://doi.org/10.52103/jmch.v3i1.812

Issue

Section

Articles