Pengaruh Asi ekslusif Terhadap Stunting Di Desa Bulu Cindea Kabupaten Pangkep

Authors

  • Risma Yanti Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia
  • Muhammad Nadjib Bustan Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia
  • Arman Arman Magister Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52103/jmch.v3i3.859

Keywords:

Stunting, Asi ekslusif, Pendapatan Keluarga, Pendidikan Orang Tua, Riwayat Penyakit Infeksi.

Abstract

Background : Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya pertumbuhan karena malnutrisi dalam jangka waktu yang lama. Periode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebut dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan dipengaruhi oleh status gizi ibu pada saat menyusui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Asi ekslusif Di Desa Bulu Cindea Kabupaten Pangkep.

Metode : Desain penelitian ini menggunakan studi kasus kontrol yaitu sebanyak 54  kasus balita stunting dan sebanyak 54 kontrol balita yang tidak stunting. Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan observasi dan wawancara responden dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik dan perhitungan Analisis Odds Ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95%.

Hasil : diperoleh bahwa (1) besar risiko tidak Asi ekslusif terhadap stuntingsebesar 2,558, (2) ibu dengan Pendidikan rendah terhadap stunting sebesar 2,303, (3) ibu dengan pengetahuan rendah terhadap stunting sebesar 1,542.(4) variabel yang paling dominan adalah Asi ekslusif diperoleh nilai sig. Exp(B) = 2.320 CI 95% (1.016– 5.298). Disarankan kepada petugas kesehatan untuk memberikan edukasi atau penyuluhan tentang pemberian Asi ekslusif stunting, sebagai upaya menurunkan angka stunting pada balita

 

References

DAFTAR PUSTAKA

ACC/SCN. (2000).4th Report –The World Nutrition Situation. Nutrition throughout the Life Cycle. Geneva: WHO

Adianti, Prihatini, dan Hermina. (2016). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Individu TentangMakanan Beraneka Ragam sebagai Salahsatu Inidkator Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Buletin Penelitian Kesehatan.44.(2). 117-126

Agil Dhiemitra Aulia Dewi, S.Gz., MPH. (2017). Stunting dalam perspektif Islam dan Muhammadiyah.

Agresti, A. (1990). An Introduction to Categorical Data Analysis. In Journal of the American Statistical Association (second, Vol. 103, Issue 483). John Willey & Sons. https://doi.org/10.1198/jasa.2008.s251

Akhmad Mujahidin. 2007. Ekonomi Islam, Ed. 1 ( Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada. Hal 64.

Alamsyah. D,. Mexitalia. M, dan Margawati. A,.(2015). Beberapa Faktor Risiko Gizi Kurangdan Gizi Buruk Pada Balita 12-59 Bulan. Jurnal Vokasi Kesehatan, 1 [5]. 131-135.

Al-Fauzan, Saleh. 2005. Fiqih Sehari-Hari. Jakarta: Gema Insani

Allen L, Gillespie S. 2001. What works ? a reviewof the efficacy and effectivness of nutritioninterventions. Manila: ACC/SC and AsianDevelopment Bank; 2001.

Anisa, P. (2012). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-60 Bulan Di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun2012 (Skripsi). Depok: FKM UI.

Anshori HA.2013.. Faktor Risiko Kejadian StuntingPada Anak Usia 12-24 Bulan Univrsitas Diponegoro.

Arini, D., Yuliastuti, C., & Putri, E. N. (2020). Pemberian AsiBerhubungan Dengan Derajat Stunting Bayi Usia 6-12 Bulan.12(1), 27–35

Aryastami, N. K. (2017). Kajian Kebijakan dan Penanggulangan Masalah Gizi Stunting diIndonesia. Buletin Penelitian Kesehatan 45 (4), 233-240.

Aridiyah, F., Rohmawati,. Ririanty, M,. 2015. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan(The Factors Affecting Stunting on Toddlers in Rural and Urban Areas). e-Jurnal Pustaka Kesehatan, pp.163-70.

Aryastmai N.K, Tarigan I. (2017b). Kajian kebijakan danpenanggulangan masalah gizi stunting di Indonesia.Buletin Penelitian Kesehatan; 45(4):233-240.

Astari, L. D., Nasoetion, A. And Dwiriani, C.(2005). Hubungan KarakteristikKeluarga, Pola Pengasuhan dan KejadianStunting Anak Usia 6-12 bulan. Media Gizidan Keluarga. 29(2) : 40-46

Atikah Rahayu, Fahrini Yulidasari, Andini Octaviana Putri dan Lia

Anggraini. 2018. Study Guide – Stunting Dan Upaya Pencegahannya BagiMahasiswa Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-1 Tahun 2018. CV. Mine.ISBN:978-602-52833-1-4.

Berhanu, G., Mekonen, S., Sisay, M. (2018). Prevalence of stunting and associated factors amongpreschool children: A community based comparative cross sectional studyin Ethiophia.

Bishwakarma, R. (2011). Spatial Inequality in Children Nutrition in Nepal: Implications of Regional Context and Individual/Household Composition. (Disertasi, University of Maryland,College Park, United States).

Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. 2018. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia, Edisi 1 Semester 1 Tahun 2018.

Bunga Ch Rosha, Kencana Sari, Indri Yunita SP, Nurilah Amaliah, N. U. (2018). Peran Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif dalam Perbaikan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor.

Casadei, K., & Kiel, J. (2021). AnthropometricMeasurement StatPearls:

StatPearls Publishing

Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2016.

Dewi, I.A.K.C. & Adhi, K., 2016. Pengaruh Konsumsi Protein Dan Seng Serta Riwayat Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Balita Umur 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida Iii. Arc. Com. Health, p.41.

E-ppgbm. (2020). Entry Pencatatan Dan Pelaporan Berbasis Masyarakat.

Fani Ulva Rahayu, (2019). Faktor –Faktor Resiko Kejadian Stunting Pada Anak Sekolah Di Sdn 56 Anak Air Kota Padang Tahun 2019. Fatimah, S., Nurhidayah, I. danRakhmawati, W. (2008). ‘Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Status Gizi pada Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya’, 10(Xviii), pp. 37–51.

Fikawati, S., 2020. Gizi Anak dan Remaja. Depok: Pt.Rajagrfindo Persada.

Gibney, J., Michael, B, M., Margarets, J, M. K., Lenore, A. (2002). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Gunawan, I. M. A. (2015). Pemberian ASI eksklusif tidak berhubungan dengan stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di Indonesia. 1, 162–174.

Halimatusyadiah, l. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anakusia 24-59 bulandi puskesmas curug kota serang provinsi banten tahun 2019. Jurnalilmiah kesehatan delima, 4(1), 1–8.

Hanafi, Y. (2012). Peningkatan Kecerdasan Anak Melalui Pemberian ASI dalam Al-Qur’an. Mutawâtir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis, 2(1).

Handayani, D. (2013). Strategi Perempuan dalam Kemandirian Gizi Keluarga (Studi Kelompok Pengajian Putri Nurul Hidayah Blabak Kota Kediri). MUWÂZÂH: Jurnal Kajian Gender, 5(1).

Hoddinott, J., Alderman, H., Behrman, J. R., Haddad, L., & Horton, S. (2013). The economic rationale for investing in stunting reduction. Maternal and Child Nutrition, 9 (S2), 69–82.

Hosmer, D. W., & Lemeshow, S. (2000). Applied Logistic Regression (second). John. Wiley & Sond, INC.

Infodatin. 2016. Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.

Integrasi Susenas dan SSGBI. (2019). Laporan Pelaksanaan Integrasi Susenas dan SSGBI Tahun 2019.

Ismanto dkk, 2012, Hubungan Pengetahuan Orang Tua Tentang Gizi Dengan stunting Pada Anak Usia 4-5 tahun di TK Malaekat Pelindung Manado.

Jamal, Mustafa. 2004. Pengelolaan Zakat oleh NegaraUntuk Memerangi Kemiskinan. Jakarta: KOPRUS.

Kahfi, A. (2015). Gambaran Pola Asuh pada BadutaStunting Usia 13-24 Bulan di Wilayah KerjaPuskesmas Neglasari Kota Tangerang.

Kanjilal et al. 2010. Nutrition Status of Children in India: Household Socio Economic Condition as The Contextual Determinant. International Journal for Equality in Health. Biomed Central Ltd. 9:19

Kawengian, Murty Ekawaty M, Nova H. Kapantow. 2015. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status gizi anak umur 1- 3 tahun di Desa Mopusi Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Induk Sulawesi Utara. Vol 3 no.2

Kemenkes. (2018). Buku Saku Pemantauan Status Gizi. Jakarta: Dapartemen Kesehatan RI.

Kemenkes. 2018. Hasil Utama Riskesdas. Jakarta : Departemen kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2011).Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Dan Anak Direktorat Bina Gizi, Jakarta.

Kemenkes. (2016). Situasi Balita Pendek. Jakarta : Pusat Data Dan Informasi Kementrian kesehatan.

Kemenkes. (2018). Hasil Utama Riskesdas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Khoirun Ni’mah, Siti Rahayu Nadhiroh, (2015). Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Vol. 10, No. 1 (13).

Kristiyanasari, W. (2011). Asi, menyusui & sadari. Yogyakarta: Nuha Medika

Kurtubi, K. (2013). Keutamaan Mengonsumsi Makanan Halalan Tayyiba. Jurnal Edu_Bio: Jurnal Pendidikan Biologi, 4.

Kusharisupeni. (2013). Peran status kelahiranterhadap stunting pada bayi: sebuah studiprospektif. Jurnal Kedokteran Trisakti. Vol.23 No.3

Kusumawati, dkk. (2015). Model Pengendalian Faktor Resiko Stunting pada Anak Usia dibawah Tiga Tahun, Vol 9 (3), p.1907-7505.

Kusuma KE & Nuryanto. 2013. Faktor Risiko Kejadian Stuntingpada Anak Usia 2-3 Tahun (studi di Kecamatan Semarang Timur). Journal of Nutrition College, 2(4), p. 523—530.

Lestari, E. F., & Dwihestie. (2020). Asi Eksklusif BerhubunganDengan Kejadian Stunting Exclusive Breastfeeding AssociatedWith Stunting Incidences In. 10(2), 1–8

Lestari, Ani Margawati, M. Zen Rahfiludin. 2014. Faktor risiko stunting pada anak umur 6-24 bulan di kecamatan Penanggalan kota Subulussalam provinsi Aceh. Vol 3, No. 1.

Mardalena, Ida. (2017). Dasar-dasar Ilmu Gizi Dalam Keperawatan.Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Maria Nova, O. A. (n.d.). Hubungan Berat Badan, Asi Eksklusif, Mp-

Asi Dan Asupan Energi Dengan Stunting Pada Balita Usia 24–

Bulan Di Puskesmas Lubuk Buaya. 2018, 5(1), 1

Merryana Adriani, SKM., M.Kes and Bambang Wirjatmadi, Prof. Dr. M.S., MCN., Ph.D., Sp.Gk. (2014).Gizi dan Kesehatan Balita : peranan mikro zinc pada pertumbuhan balita. KENCANA Prenada Media Group, Jakarta. ISBN 978-602.9413.22-9.

Meilyasari, F., & Isnawati, M. (2014). Faktor risikokejadian stunting pada balita usia 12 bulandi Desa Purwokerto Kecamatan Patebon,Kabupaten Kendal (Doctoral dissertation,Diponegoro University).

Marlan Pangkong, A. J. M. R. (2017). Hubungan Antara PemberianAsi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 13-36Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Sonder Pendahuluan GiziMerupakan Salah Satu Faktor Yang Menentukan Tingkatkesehatan dan ( Kepmenkes RI , 2013 ). Pencapaian ASIeksklu.

Maxwell, Stephanie. 2011. Module 5 : Cause of Malnutrision.

Muthi’ah, S. (2010). Gizi Menurut Al-Qur’an. Dalam Studi Al-Qur’an: Metode dan Konsep. (S. Syamsuddin, Ed.). Yogyakarta: eLSAQ Press.

Nasution K, Sjahrullah MAR, Brohet KE, dkk. 2009. Infeksi saluran nafas akut pada balita di daerah urban jakarta.223-228.

Neldawati. 2006. Hubungan Pola Pembarian Makan Pada Anak dan Karakteristik Lain dengan Status Status Gizi Balita 6-59 Bulan di Lamboratorium Gizi Masyarakat Puslitbang Gizi dan Makanan (P3GM) (Analisis Data Sekunder Data Balita Gizi Buruk tahun 2005). Skripsi. Depok : FKM-UI.

Ngainis Sholihatin Nisa’ (2019). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungtuban).

Ngaisyah, R. . D. (2016) ‘Hubungan riwayat lahir stunting dan BBLR dengan status gizi anak balita usia 1-3 tahun di Potorono, Bantul Yogyakarta’, Medika Respati, 11(2), pp. 51–61.

Ni'mah, K., & Nadhiroh, S. R. (2015). Faktor yang Berhubungan D=dengan Kejadian Stunting pada Balita. Media Gizi Indonesia, Vol 10 No 1, 13-19.

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Yang Berhubungan

Nurul Farhanah Syah. (2019)Faktor-Faktor Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-23 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2018.

Picauly, I. and Toy, S.M., (2013). Analisis determinandan pengaruh stunting terhadap prestasibelajar anak sekolah di Kupang dan SumbaTimur, NTT. Jurnal Gizi dan Pangan, 8(1),pp.55-62.

Pohan, Anni Mardiah. (2017a). Faktor-faktor Resiko Kejadian Stunting pada Anak Perempuan Usia 2-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas BiruKecamatanAekBilahKabupatenTapanuli.http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/20035/.

Pohan, Anni Mardiah. (2017b). Faktor-faktor Resiko Kejadian Stunting pada Anak Perempuan Usia 2-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas BiruKecamatanAekBilahKabupatenTapanuli.http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/20035/.

Pusdatin. (2018). Topik Utama Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia.

Puspasari, N. danAndriani, M. (2017) ‘Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Gizi dan Asupan Makan Balita dengan StatusGizi Balita ( BB / U ) Usia 12-24 Bulan Association Mother ’ s Nutrition Knowledge and Toddler ’ s NutritionIntake with Toddler ’ s Nutritional Status ( WAZ ) at the Age 12 -24 M’, pp. 369–378. doi: 10.20473/amnt.v1.i4.2017.369-378.

Proverawati, Atikah, dkk. (2009). Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan.Yogyakarta: Nuha Medika.

Proverawati, L.,2010. BBLR (Berat Badan LahirRendah).Nuha Medika : yogyakarta.

Rahayu, A., Yulidasari, F., Putri, A.O, Rahman, F., dan Rosadi, D. 2016.

Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pendek Pada Anak Usia 6-24 Bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. KEMAS 11 (2) (2016) xx-xx.ISSN 1858-1196

Rahmatillah, D. K. (2018) ‘Hubungan Pengetahuan Sikap dan Tindakan terhadap Status Gizi’, Amerta Nutrition, pp. 106–112. doi: 10.20473/amnt.v2.i1.2018.106-112.

Reni Merta Kusuma, R. A. H. (2018). ANTROPOMETRI PENGUKURAN STATUS GIZI ANAK USIA 24-60 BULAN DI KELURAHAN BENER KOTA YOGYAKARTA Reni Merta Kusuma , Rizki Awalunisa Hasanah.

Riskesdas. (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Departement Kesehatan RI.

Riskesdas. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta : Departemen Kesehatan RI..

Rizki Aryo Wicaksono. 2020. Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Berusia 1 - 60 Bulan Dengan Menggunakan Kurva Pertumbuhan Anak Indonesia. Tesis. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.Medan

Rosha, Bunga Ch., Hardinsyah, Yayuk, F.B. (2012). Analisis Determinan StuntingAnak 0-23 bulan pada Daerah Miskin di Jawa Tengah dan Jawa Timur. The Journal of Nutrition and Food Research) p.34-41.

Rozalinda. 2014. Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi, Cetakan Ke-1, ( Jakarta: PT Rajawali Press. Hal 250-251.

Sandjojo, E. (2017). Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta:

Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi.

Shihab, M. Q. (2007). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia, Edisi 1 Semester 1 Tahun 2018 (Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan 2018).

Soetjiningsih .1995. Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabeta.

Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

TafsirQ. Tafsir Alqur’an Online.https://tafsirq.com/.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2017.

Tomkins, Andrew, dan Fiona W. 1989. Malnutrition and infection – A review – Nutrition policy discussion paper No. 5. Geneva.

Trihono, T., Atmarita, A., Tjandrarini, D. H., Irawati, A., Nurlinawati, I., Utami, N. H., & Tejayanti, T. (2015).Pendek (stunting) di Indonesia, masalah dan solusinya

Tsabit, F. (2013). Makanan Sehat dalam al-Qur’an: Kajian Tafsir bi al-‘Ilm dengan Pendekatan Tematik. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.

Unicef Framework (2007) ‘A schematic overview of the factors known from international experience to cause chronic malnutrition, or stunting’.

Ullah MB, Mridha MK, Arnold CD, dkk. 2019. Factor associated with dearrhea and acute respiratory infection in children under two years of age in rural Bangladesh. BMC pediatr.

UNICEF .1990. Strategy for improving nutrition of children and women in developing countries. New York 1990.

Unicef. (2013). Improving Child Nutrition The achievable imperative for global progres.

Welasasih dan Wirjatmadi. (2012).Beberapa Faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunting.

Welassih. B.D, Wirjatmadi R.B.,. (2012). Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunting. The Indonesian Journal of Public Health,Vol. 8, No. 3 Maret 2012: p. 99–104.

World Health Organization. (2013). Chilhood Stunting: Context, Causes, Consequences. Geneva: WHO.

Yudianti, Rahmat Haji Saeni. (2016).Pola Asuh Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Polewali Mandar.Vol 2. No 1.

Yuliana, Wahida dan Hakim, Nul Bawon. (2019). Stunting Dengan Melibatkan Keluarga. Sulawesi Selatan: Yayasan Amar Cendikia Indonesia.

Yusdarif, Bujawati, Habibi, Aeni Syahratul, Azriful (2018). Determinan kejadian stunting pada stunting 24-59 bulan di kelurahan Rangas kecamatan banggae kabupaten majene tahun 2018. Universitas Islam Negeri Makassar.

Yustianingrum, L. N. Dan Adriani, M. (2017) ‘Perbedaan Status Gizi dan Penyakit Infeksi pada Anak Baduta yang Diberi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif The Differences of Nutritional Status and Infection Disease in Exclusive Breastfeedand Non Exclusive Breastfeed Toddlers’, pp. 415–423. doi: 10.20473/amnt.v1.i4.2017.415-423.

Zaki, M. (2014). Perlindungan Anak dalam Perspektif Islam. ASAS: Jurnal Hukum Dan Ekonomi Islam, 6(2).

Downloads

Published

2022-07-20

How to Cite

Risma Yanti, Bustan, M. N., & Arman, A. (2022). Pengaruh Asi ekslusif Terhadap Stunting Di Desa Bulu Cindea Kabupaten Pangkep. Journal of Muslim Community Health, 3(3), 120–133. https://doi.org/10.52103/jmch.v3i3.859

Issue

Section

Articles